ketika mual melanda sewaktu kerja
Berbagai pertimbangan telah membuatku bimbang. Perutku mual di saat gelap belum begitu lama menyembunyikan sinar surya. Tetapi aku harus "dinas" sampai tengah malam nanti. Ingin rasanya pulang, istirahat. Tapi siapa yang akan menggantikan aku jaga ?
Pak Sigit sudah jaga seharian tadi. Aku tidak mungkin meminta pensiunan pegawai administrasi itu untuk menggantikan aku. Mas Sena,...sebenarnya shift ini adalah miliknya, tapi tempo hari dia memintaku untuk menggantikan. Fitri,... akhwat itu ? Oh,... yang benar saja! Masak wanita mulia kayak gitu mau kusuruh keluar malam² menggantikan tugasku ?! Mbak Ari ,... tidak beda jauh dengan Fitri. Dia juga seorang akhwat yang telah memutuskan untuk berhijab demi kehormatan yang telah dikaruniakan kepadanya. Dulu memang aku pernah meminta dia menggantikan aku jaga. Malam hari. Walaupun dia berkata sanggup dan berani jaga dan pulang malam, tapi setelah itu aku kapok karena si Big Boss tidak sepakat. Alternatif terakhir : Mas Momo, alias si empunya warnet, alias Big Boss. Nalar gak sieh ketika aku meminta bossku untuk menggantikan tugasku ? Duh, jadi saingan sama pemain badminton, mengembalikan umpan. Mengembalikan tugas yang telah dia berikan. Dengan SMASH!!!
................................................................................................
Seusai mengajar di Jl. Malabar Barat, aku langsung menuju tempat menakar rejeki yang lain : warnet. Memang selalu begitu, dan sudah kuatur agar menjadi begitu. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Aku harus mengoptimalkan pendapatan. Harus memanfaatkan prinsip ekonomi yang telah di"dakwahkan" kepadaku pada waktu aku SMP. "Pengorbanan yang se-dikit²nya untuk memperoleh keuntungan yang se-besar²nya". Sama² di Mojosongo-nya, ngajar habis itu langsung jaga.
Aku begitu semangat karena lembar presensi petugas jaga sudah habis tanggal 3 kemarin. Itu berarti hari ini nanti saatnya .....GAJIAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNN!!!!
Persediaan uangku sudah habis. Untuk beli bensin saja ini aku pakai uang kas pajak. (Ditukar koq.... nanti kalau sudah terima amplop dari boss....). Kemarin juga, keliling² sama Yuliana sempet memohon-mohon buat ditraktir.
Bener. Sesudah sholat maghrib, aku duduk manis sambil mencari² artikel pHp di internet. Mau belajar web dinamis. Seorang pemuda cakep datang. Tidak lain dia adalah bossku. Kantongnya masuk tangan, eh...tangannya masuk kantong. Dan,... "Ini mas, gaji untuk bulan ini"
Dunia terasa cerah kembali. Darah² terasa mengalir normal kembali. Suntuknya ilang. Muka yang (mungkin) tertekuk² kini ibarat tersetrika (panas dunk) halus mulus kembali. Senyum mengembang lebih tulus lagi...lagi,...lagi,...
Ku baca slipnya,...wah ada bonusnya juga. Alhamdulillah.
Aku merasa perlu sekali² memanjakan diri. Makan malamku menggunakan menu istimewa. Setidaknya lebih dari yang biasanya. Aku juga jadi semangat kerja.
Tapi, sepertinya menu istimewaku tidak tepat. Perutku langsung mual. Ops, sebentar. Mual ini gara² makanan yang barusan ataukah pepaya yang aku petik dan langsung aku makan tadi pagi ? ataukah es yang dijual PKL di sekitar bunderan Baron ? Whatever, .... yang jelas sekarang aku mau muntah. Oogh,...jangan!!!
Aku raih handphone dan ...
Ass. Mas, afwan, bisa gantiin saya jaga tidak?saya mual mau muntah. Afwan.wass.
SMS itu aku tujukan ke Bossku. Karena dialah alternatif terakhir yang bisa menggantikan aku saat ini. Keputusan ini aku ambil setelah di hatiku terjadi baku pendapat antara yang pro dan kontra. Setuju kalau boss menggantikan tugasku, dan tidak setuju karena seperti itu sama saja mengembalikan tugas kepada pemberinya. Untuk menutup warnet saat itu juga adalah sesuatu yang tidak mungkin karena ada 2 client yang sedang berinternet.
Rasa mual merambat ke kepala. Bukannya kepala ikut mual, tetapi kepalaku pusing. Terasa berat sekali. Kuletakkan tanganku diatas tangan yang kulipat dan kuletakkan di atas meja komputer.
Tak lama kemudian, sepotong tangan dingin menyentuh tanganku. Aku mengangkat kepala,
"Bagaimana mas? Saya belikan teh hangat dulu, ya biar bisa buat kekuatan?" Duh baiknya orang ini.
"Ah tidak perlu mas" Tolakku karena sungkan.
"Atau istirahat di tempat saya dulu ?"
Duh,...apalagi yang ini,.. enggak ah, nanti malah merepotkan.
"Tidak usah, mas, terimakasih. Saya ijin pulang saja."
Menerobos angin malam yang dingin. Kupacu kendaraanku dengan kecepatan sedang. Sesekali aku tambah gasnya. Aku ingin cepat² sampai rumah. Kasurku sudah mem-bayang²i.
Angin malam yang dingin begitu gesit. Mereka masuk ke lengan jaketku. Naik menuju tubuhku. Dingin! Tas yang kugunakan sebagai tameng hanya sedikit mengatasi masalah. Angin malam lebih banyak akal untuk mencapai tubuhku. Mereka menerobos lewat samping kiri-kanan. Whuzzz... Menerpa dadaku. Dingin!
Ada penyesalan kecil timbul di benak ini. Kenapa juga tadi aku menolak dibelikan teh panas, ya..... Ah, aku bisa beli sendiri. Aku harus mencari HIK yang sepi agar penjualnya bisa melayaniku dengan cepat.
"teh panas dua, Pak, diplastik saja" Tidak tanggung²!!! Aku beli dua!!!
Sesampai di rumah, pintu sudah terkunci.
Thok,...thok,...thok,....
"Paaak!!" teriakku.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Hanya setengah terbuka karena daun pintunya terhalangi roda depan motorku. Setelah memarkir kendaraan dan meneguk teh panas yang barusan aku beli, rasa mual di perutku memuncak. Mencapai klimaks! Sampai kerongkongan,...dan,...
Hwuek..............
Isi perutku keluar. (maaf ya kalo pembaca lagi makan dan sejenisnya....). Tapi aku malah puas. Meledak keluar. Lega.