Tuesday, August 23, 2005

ujian, gak jadi

Terkadang, hal-hal sepele yang kita bisikkan dan mintakan kepada yang Maha Kuasa terdengar
dan dikabulkan. Hal sangat sepele sekalipun. Seperti : ujian diundur!
...................................

SKS....Sistem Kebut Semalam! Wayangan! Untuk hal ini aku berusaha sebisa mungkin tidak melakukannya.(setidaknya kadang-kadang!).

Isu tentang ujian mata kuliah Probabilitas sudah lama sekali menjadi perbincangan teman² seangkatan. Aku berusaha "mencicil" untuk belajar. Tapi, lagi-lagi penyakit mahasiswa menjangkiti : mengantuk ketika belajar. Belajar pun menjadi belajar-belajaran.

Ujian tinggal beberapa jam lagi. Mmmm...kira² sehari lebihnya berapa jam gitu. Tiga bab materi yang akan diujiankan baru sedikit sekali terjamah. Panik. Apalagi ada perasaan yang kini menjerat konsentrasi sehingga tidak jauh-jauh dari dia (apa nieeeh....).

Aku sudah mencoba mengambil alih konsentrasi dari hal "itu" ke belajar dengan menyapa dia lewat SMS. Failed!

Aku hanya berharap Yang Diatas menolongku. Moga aja besok gak jadi ujian. Gak jadi,...gak jadi,...gak jadi,... . Aku tidak belajar tapi malah sibuk mendoakan besok tidak jadi ujian.

Jam sembilan malam lebih berapa aku lupa, thiiit...thiit... handphone Sony Ericssonku menjerit pendek. SMS, mas. Ku sangka dari si dia. Ternyata :

bsk g jd ujian prob.diundur senin depan coz ada ujian maru D3.Astrid. (Besok tidak ada ujian probabilitas. Diundur Senin depan karena ada ujian mahasiswa baru D3. Astrid.)

CIHUIY................

Friday, August 19, 2005

▲ wartawan poliklinik ▲

Zaman yang serba sulit mendesak sebagian besar mahasiswa harus ekstra kerja keras dan pandai-pandai membagi waktu dan pikiran. Kuliah, organisasi, kantong, semua butuh jatah waktu dan pikiran. Terlebih lagi bagi para aktivis yang tidak bisa tidak padat time schedulenya. Bukan hanya biaya semesteran yang dikatakan kebanyakan orang : mencekik leher, biaya sehari-hari selama kuliah lebih dari sekedar mencekik leher. Fenomena (cie.....ileeee, kata²nya....) ini dijadikan para mahasiswa untuk mencari "samben".
...............................................

Wartawan poliklinik, ada gak sieh ?

Kemarin, aku nyoba-nyoba melamar pekerjaan yang lowongannya di iklankan di koran harian solopos. Dibutuhkan wartawan/ti, lulusan SLTA, maksimal 35 tahun, dan bersedia ditempatkan di eks-karesidenan Surakarta. Aku merasa memenuhi persyaratan yang diajukan.Aku sudah lulus SLTA. Umurku juga belum nyampe berkepala tiga. Masalah penempatan, .....no problemo!
Setelah mengetik surat lamaran, aku kembali mengecek kelengkapan yang diperlukan. Foto kopi STTB,...sudah! Foto kopi transkrip nilai,...sudah! Foto kopi Kartu Mahasiswa,...sudah! Foto kopi sertifikat diklat jurnalistik juga sudah. Foto terbaru ?....satu....dua....tiga...empat...lengkap! Aku masukkan berkas-berkas itu dalam map karton warna merah. Bismillah!

Jl. Kartopuran 241 A Jayengan Surakarta. Aku ingat betul alamatnya. Yagh,...itu dia alamatnya.
Dengan kendaraanku yang paling ku sayang karena hanya semata wayang, aku meluncur ke alamat itu. Kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan yang aku hadapi dalam mencari alamat itu, kiranya tidak terlalu penting untuk dituliskan disini, karena memang aku tidak menghadapi kesulitan yang berarti. Kalau hanya jalan kartopuran, sieh, aku tahu. Dulu sewaktu SMU aku sering melewatinya ketika pulang-pergi ke warnet.

Alangkah terkejutnya dan bercampur kecewa dan sedikit gak pede ketika aku nyampe di lokasi. Ada sebuah plakat hijau terpampang di depan sebuah gedung :
Jl. Kartopuran 241 A Jayengan Surakarta.
Ya,...benar ini alamatnya,...tapi,... di atas tulisan itu ada tulisan yang lebih dominan lagi :

POLIKLINIK UMUM ASY SYIFA'

Lhah ... dalah! Iklannya yang salah, apa aku yang salah baca ya.... Atau di milenium ketiga ini memang telah muncul sebuah lapangan kerja baru, lapangan kerja era milenium : wartawan poliklinik umum! Trus, kerjanya apa ? Meliput berita kemudian di muat di.....ah,...sulit untuk dinalar.

Jling.... . Aku ada ide. Aku akan menanyakan perihal lowongan itu ke si pemasangnya via telfon. Eh, salah, via handphone. Dalam iklan itu ada nomor hp yang bisa dihubungi.
Tat...tit...tut...Aku coba menghubungi nomor yang telah aku catat di buku agendaku.
Tuuuuuuuut........"Anda terhubung dengan...."
Aku langsung matikan hpku. Wah, ....mailbox.
Belum menyerah sampai di situ, aku menelfon Solopos. (Lhoh....buat apa ?) Aku menanyakan perihal iklan itu ke bagian periklanan.
"Maaf, Pak -wah, aku dipanggil : Pak- untuk isi iklan itu diluar tanggung jawab kami. Solopos hanya menayangkan saja. Kami menerima materi dari pemasang iklan, ya materi itulah yang kami pasang. Kami tidak tahu menahu masalah kesalahan ketik atau yang sejenisnya"

Pupus sudah.

Friday, August 12, 2005

jalan sehat

Ketua karang taruna tidak setuju dengan panjat pinang.
Terlalu tidak bermanfaat.
Yang mendapat hadiah ya cuman yang mau manjat.
Yang tidak berani lantaran takut pundaknya jadi cedera karena diinjak-injak, ya harus puas dengan menjadi penonton dan mendonasikan tangannya untuk bertepuk tangan dan sesekali melontarkan saran bercampur kritikan, sambil berharap kebagian hadiah dari para peserta nanti di akhir acara. Tidak jarang para peserta membagikan hadiah ringan yang telah mereka petik kepada penonton seusai acara.

.............................
Selain tidak bermanfaat, sebenarnya ketua karang taruna tidak sepakat dengan diadakannya panjat pinang di kampung untuk memeriahkan HUT RI ke-60 karena anggarannya yang haruslah besar. Sedangkan alternatif dana yang masih ada hanyalah dari kas. Pemasukan dari donatur sudah dialokasikan untuk dana konsumsi tirakatan dan pembelian hadiah lomba kategori anak-anak.

Rapat yang alot telah mengulur waktu sampai hampir pukul 10 malam. Ada yang berkeinginan untuk tetap menyelenggarakan panjat pinang apapun resikonya, ada juga yang berkeinginan menyelenggarakannya tapi dengan hadiah yang sederhana (bial ilit.....), ada juga yang sudah berkeinginan untuk....... pulang. Ngantukz.....

Dana yang masih kita pegang sebesar Rp 128.000,-. Untuk beli hadiah dan vaselin, kira-kira kita butuh 300an ribu lagi. Kata ketua panitia.

Pake vaselinnya sendiri-sendiri aja biar irit.....
Whuahahahaha...... spontan suasana jadi hingar. Entah yang keberapa kali guyonan itu. Rapat dengan mereka² kadang menyenangkan, tapi kadang juga mengonyolkan.

Mohon rekan² pertimbangkan mengenai agenda kita untuk memperbarui seragam, dasi dan beberapa inventaris yang rencananya akan kita beli. Kalau saya usul, kita adakan lomba lari saja. Selain irit, juga bermanfaat dan bisa diikuti oleh mayoritas warga. Kata mas Ketua karang taruna.

Akhirnya,.....diketok palu : Minggu tanggal 14 Agustus 2005, jam 06.00, start dan finish di masjid baiturrosyiddin, jalan sehat digelar dengan peserta seluruh warga. Aku kebagian membuat undangan dan membuat kupon undian, plus mencari hadiah ....(borongan, mas.....!!!)

Hadiahnya : TV, Kipas angin, kaos, jam dinding,...

Mau ikut ?



Tuesday, August 09, 2005

alihkan

Dalam dunia maya, kita harus mempelajari etika² agar tidak merugikan kita dan orang lain. Agar tidak mengganggu privacy orang. Terkadang, memang, di dunia maya kita harus "memayakan" apa² yang menjadi identitas kita. Karena identitas adalah harta paling berharga (mengutip kata² Elastigirl dalam film animasi The Incredible)
.........................................................................
Pagi ini aku dikejutkan sebuah email yang masuk ke inbox messege friendster-ku. Bagaimana tidak, pesan itu bertajuk : sialan. Hendy Sanjaya, nama pengirimnya. Sudah lama aku kenal dia lewat mIRC. Belum pernah ketemu, tapi aku tahu dia bukan orang gampangan. Dengar² dia suka pilih² teman. Dan penilaian dia selalu dari sudut pandang : fisik. Itu yang ku dengar dari mereka² yang mengenal dia.
Aku baca isinya. Matching dengan judulnya, dia marah². Bagian bawah dari pesan yang dia tulis, disana ada pesanku. Ah, aku tidak tahu harus mengatakan pesan itu sebagai pesanku atau bukan. Karena aku tidak merasa menulisnya.
Di friendster, Hendy memasang gambar seekor anjing sebagai primary picture. Dan isi "pesanku" itu adalah : mirip yang buat.
Aku kaget saja membaca pesan itu. Karena sekali lagi, aku benar² tidak merasa menulisnya.

Aku jadi ingat, kemarin waktu aku jaga, ada seorang pelanggan datang. Aku dan dia sudah akrab. Dan itu yang aku rasa harus aku lakukan sebagai penjual jasa : mengakrabi konsumen. Aku sieh percaya saja dengan dia. Dia memakai komputer billing, komputer yang aku pakai. Ternyata kepercayaanku disalahgunakan! (nyueseallll!!!!)
Aku menduga dia yang mengirim pesan : "mirip yang buat" itu. Nyesel bener!

Aku hanya bisa menerimanya. Everything happened.

Setelah baca² email, ada satu pelanggan masuk warnet. Tahu apa yang menarik perhatianku : dia memakai celana pendek! WOW! Pagi² sudah disuguhi sarapan seperti itu.

Memang bener sieh itu hak dia. Celana² dia, juga! Tapi, mengapa dia tidak menilik efek yang ditimbulkan dari celana yang hanya menutupi setengah paha atas itu ?! Lagian etis gak sieh kalau keluar dengan busana seperti itu ? (Habis olah raga, kali)
Yang jelas penampilan dia meningkatkan frekuensi detak jantungku. Bergerak lurus dipercepat, dengan percepatan 5 m/s². (hehehe)

Masak di warnet harus dipasang tulisan : Berpakaian rapi dan sopan, atau, no shoe, no serve. Kog nyaingin di kampus!

Aku sigap, menangkap pikiranku. Memasungnya agar tidak kemana². STOP! Alihkan pikiran,...alihkan,...alihkan....!!!

ALIHKAN!!!! (dengan berusaha meredam segala gejolak di dada)

Friday, August 05, 2005

ketika mual melanda sewaktu kerja

Berbagai pertimbangan telah membuatku bimbang. Perutku mual di saat gelap belum begitu lama menyembunyikan sinar surya. Tetapi aku harus "dinas" sampai tengah malam nanti. Ingin rasanya pulang, istirahat. Tapi siapa yang akan menggantikan aku jaga ?
Pak Sigit sudah jaga seharian tadi. Aku tidak mungkin meminta pensiunan pegawai administrasi itu untuk menggantikan aku. Mas Sena,...sebenarnya shift ini adalah miliknya, tapi tempo hari dia memintaku untuk menggantikan. Fitri,... akhwat itu ? Oh,... yang benar saja! Masak wanita mulia kayak gitu mau kusuruh keluar malam² menggantikan tugasku ?! Mbak Ari ,... tidak beda jauh dengan Fitri. Dia juga seorang akhwat yang telah memutuskan untuk berhijab demi kehormatan yang telah dikaruniakan kepadanya. Dulu memang aku pernah meminta dia menggantikan aku jaga. Malam hari. Walaupun dia berkata sanggup dan berani jaga dan pulang malam, tapi setelah itu aku kapok karena si Big Boss tidak sepakat. Alternatif terakhir : Mas Momo, alias si empunya warnet, alias Big Boss. Nalar gak sieh ketika aku meminta bossku untuk menggantikan tugasku ? Duh, jadi saingan sama pemain badminton, mengembalikan umpan. Mengembalikan tugas yang telah dia berikan. Dengan SMASH!!!
................................................................................................

Seusai mengajar di Jl. Malabar Barat, aku langsung menuju tempat menakar rejeki yang lain : warnet. Memang selalu begitu, dan sudah kuatur agar menjadi begitu. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Aku harus mengoptimalkan pendapatan. Harus memanfaatkan prinsip ekonomi yang telah di"dakwahkan" kepadaku pada waktu aku SMP. "Pengorbanan yang se-dikit²nya untuk memperoleh keuntungan yang se-besar²nya". Sama² di Mojosongo-nya, ngajar habis itu langsung jaga.

Aku begitu semangat karena lembar presensi petugas jaga sudah habis tanggal 3 kemarin. Itu berarti hari ini nanti saatnya .....GAJIAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNN!!!!
Persediaan uangku sudah habis. Untuk beli bensin saja ini aku pakai uang kas pajak. (Ditukar koq.... nanti kalau sudah terima amplop dari boss....). Kemarin juga, keliling² sama Yuliana sempet memohon-mohon buat ditraktir.

Bener. Sesudah sholat maghrib, aku duduk manis sambil mencari² artikel pHp di internet. Mau belajar web dinamis. Seorang pemuda cakep datang. Tidak lain dia adalah bossku. Kantongnya masuk tangan, eh...tangannya masuk kantong. Dan,... "Ini mas, gaji untuk bulan ini"
Dunia terasa cerah kembali. Darah² terasa mengalir normal kembali. Suntuknya ilang. Muka yang (mungkin) tertekuk² kini ibarat tersetrika (panas dunk) halus mulus kembali. Senyum mengembang lebih tulus lagi...lagi,...lagi,...
Ku baca slipnya,...wah ada bonusnya juga. Alhamdulillah.
Aku merasa perlu sekali² memanjakan diri. Makan malamku menggunakan menu istimewa. Setidaknya lebih dari yang biasanya. Aku juga jadi semangat kerja.

Tapi, sepertinya menu istimewaku tidak tepat. Perutku langsung mual. Ops, sebentar. Mual ini gara² makanan yang barusan ataukah pepaya yang aku petik dan langsung aku makan tadi pagi ? ataukah es yang dijual PKL di sekitar bunderan Baron ? Whatever, .... yang jelas sekarang aku mau muntah. Oogh,...jangan!!!

Aku raih handphone dan ...

Ass. Mas, afwan, bisa gantiin saya jaga tidak?saya mual mau muntah. Afwan.wass.

SMS itu aku tujukan ke Bossku. Karena dialah alternatif terakhir yang bisa menggantikan aku saat ini. Keputusan ini aku ambil setelah di hatiku terjadi baku pendapat antara yang pro dan kontra. Setuju kalau boss menggantikan tugasku, dan tidak setuju karena seperti itu sama saja mengembalikan tugas kepada pemberinya. Untuk menutup warnet saat itu juga adalah sesuatu yang tidak mungkin karena ada 2 client yang sedang berinternet.
Rasa mual merambat ke kepala. Bukannya kepala ikut mual, tetapi kepalaku pusing. Terasa berat sekali. Kuletakkan tanganku diatas tangan yang kulipat dan kuletakkan di atas meja komputer.

Tak lama kemudian, sepotong tangan dingin menyentuh tanganku. Aku mengangkat kepala,
"Bagaimana mas? Saya belikan teh hangat dulu, ya biar bisa buat kekuatan?" Duh baiknya orang ini.
"Ah tidak perlu mas" Tolakku karena sungkan.
"Atau istirahat di tempat saya dulu ?"
Duh,...apalagi yang ini,.. enggak ah, nanti malah merepotkan.
"Tidak usah, mas, terimakasih. Saya ijin pulang saja."

Menerobos angin malam yang dingin. Kupacu kendaraanku dengan kecepatan sedang. Sesekali aku tambah gasnya. Aku ingin cepat² sampai rumah. Kasurku sudah mem-bayang²i.

Angin malam yang dingin begitu gesit. Mereka masuk ke lengan jaketku. Naik menuju tubuhku. Dingin! Tas yang kugunakan sebagai tameng hanya sedikit mengatasi masalah. Angin malam lebih banyak akal untuk mencapai tubuhku. Mereka menerobos lewat samping kiri-kanan. Whuzzz... Menerpa dadaku. Dingin!

Ada penyesalan kecil timbul di benak ini. Kenapa juga tadi aku menolak dibelikan teh panas, ya..... Ah, aku bisa beli sendiri. Aku harus mencari HIK yang sepi agar penjualnya bisa melayaniku dengan cepat.
"teh panas dua, Pak, diplastik saja" Tidak tanggung²!!! Aku beli dua!!!

Sesampai di rumah, pintu sudah terkunci.
Thok,...thok,...thok,....
"Paaak!!" teriakku.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Hanya setengah terbuka karena daun pintunya terhalangi roda depan motorku. Setelah memarkir kendaraan dan meneguk teh panas yang barusan aku beli, rasa mual di perutku memuncak. Mencapai klimaks! Sampai kerongkongan,...dan,...
Hwuek..............
Isi perutku keluar. (maaf ya kalo pembaca lagi makan dan sejenisnya....). Tapi aku malah puas. Meledak keluar. Lega.

Tuesday, August 02, 2005

Nescafe Classic®

aku harus menemukan makanan atau sesuatu yang lain untuk mengganjal kedua kelopak mataku. besok aku ujian PDB. Dan aku merasa, selalu, belum optimal mempersiapkan diri. beberapa soal sudah aku kerjakan. Seperti biasa : hanya sepintas lalu. Penyakit malasku menggerayangi dan menyita semangatku seutuhnya. Tidak bersisa selain sedikit saja.

Air yang kudidihkan dengan teko easy instan cooking meleburkan butiran² Nescafe Classic. Tutup sebentar agar aroma khas kopinya tidak raib dibawa angin.

Sambil menunggu, kucoba mengerjakan soal² latihan. Ah, sepertinya aku harus mencicipi kopi tanpa ampas yang sedang kubuat. Kucoba angkat gelasnya. PANAS!!! Sabar ya, mat(=panggilan untuk mataku).

Mata oh mata, bertahanlah.

Aku sudah tidak tahan. Kopi yang katanya berkhasiat untuk mempertahankan diri agar tetap terjaga tidak
banyak membantu . Kelopak mataku serasa semakin berat.

Kasur nan halus kian menggodaku.

zzZZ.......ZZz.........zzzzz...........zzzZZ........... ☻

Aku tidak tahu bagaimana hasil dari pekerjaanku. Aku masih berharap bisa memperoleh 3. ☺